Kamis, 19 November 2015

Jika Presiden Indonesia Itu Kader Dakwah

Semoga ini bukan sebuah perilaku berangan-angan panjang atau berandai-andai yang di benci oleh Rasulullah SAW. Hanya sebatas motivasi diri yang coba di tuangkan dan semoga saja menjadi sebuah inspirasi untuk membangun negeri tercinta ini.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah”, maka tentunya ia akan menginfakkan jiwa dan raga ini memberikan kontribusi terbaik sebagai pemegang amanah besar ini. Rakyat dan umat ini sudah letih mendengar janji-janji para pemimpin yang mereka ingin kan adalah bukti dan kontribusi yang nyata untuk keadilan dan kesejahteraan mereka.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah “, maka senantiasa ia akan memperbanyak istighfar dan bertaubat, karena lihat saja telah banyak yang dilakukan dosa-dosa oleh diri ini dan yang paling menyedihkan adalah dosa-dosa berupa kezhaliman yang di lakukan oleh para pemimpin-pemimpin tertinggi di negeri ini sebelumnya.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah “, jika negeri ini akan di jadikan negeri yang berperadaban maka yang harus di lakukan adalah belajar dan bekerja sebaik mungkin meneladani bagaimana peradaban-peradaban besar pernah di bangun di sepanjang sejarah negeri ini dan sejarah dunia.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah “, ia kembali memimpikan hal besar untuk negeri ini yang akhirnya semoga memotivasi bahwa harapan akan tetap ada inilah bukti bahwa iman pun masih ada di masing-masing individu masyarakat yang ada di negeri ini dan tentunya negeri ini masih negeri orang-orang beriman karena bukankah ketika kita berputus asa maka bukankah ini sikap kufur.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah “, maka yang harus ia lakukan adalah meneladani kepemimpinan sejati dari teladan terbaik Rasulullah SAW para sahabat dan insan-insan hebat yang pernah memimpin dengan nilai-nilai keimanan, dengan begitu maka kesejatian seorang pemimpin akan dirasakan dan di akui bahkan oleh semesta.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah “, permasalahan negeri ini begitu banyak maka perlu bekerja keras untuk melakukan perbaikan-perbaikan namun belumlah kita mempelajari fiqih prioritas bahwa ada yang harus di prioritaskan, hal yang harus di perbaiki di negeri ini yang mereka orang-orang berakal mengatakan bahwa negeri ini sedang sakit dan bobrok terjadi di berbagai bagian tubuh negeri ini.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah “, maka ia akan mencurahkan perhatian dari rakyat terbawah sampai jajaran-jajaran tertingginya semuanya tentunya mencita-citakan yang terbaik untuk Indonesia maka mereka pulalah yang akan menjadi manusia-manusia yang bergerak pula untuk kebaikan.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah “, ia akan hancur leburkan syetan-syetan dan system yang melahirkan korupsi, kolusi dan nepotisme yang ternyata menggerogoti kesejahteraan rakyat, perbuatan yang sudah sangat akut dari zaman kita telah merdeka sampai sekarang seperti telah menjadi bola salju yang lambat laun bergulir semakin membesar untuk menimpakan tsunaminya kepada rakyat yang di bawah.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah “, masih ingatkah kita dengan disiplin amal yang kita citakan di dalam dakwah ini? melakukan perbaikan yang di mulai dari ishlah /perbaikan ibda bi nafsi memulai dari diri sendiri saya, hingga memperbaiki keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan bernegara, hukum sampai yang terakhir yaitu ustadziyatul ‘alam menjadikan Al Islam sebagai soko guru peradaban.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah “, semoga ia tidak lupa bahwa saat inilah ia berdiri di dalam periode untuk mengoptimalkan amal-amal dauli yang sedang diamanahkan kepadanya.
“Andai Presiden Indonesia itu kader dakwah “, maka untuk mencapai cita-cita tinggi Indonesia tak lain menciptakan dan mengkader pemimpin beriman sebanyak-banyaknya itulah yang akhirnya kejayaan akan semakin dekat karena sesungguhnya setiap individu adalah pemimpin hanya saja berasa dalam posisi yang berbeda. Jadi kesimpulannya adalah bahwa yang di butuhkan untuk sebuah kejayaan adalah kepemimpinan yang menginspirasi dan pemimpin-pemimpin inspirator. Mencetak pemimpin sejati sebanyak mungkin ini pulalah yang menjadi agenda besar dalam jamaah dakwah kita.

Minggu, 01 November 2015

��5 PASAL TENTANG UJIAN YANG MEMBUAT KITA TENANG��

��5 PASAL TENTANG UJIAN YANG MEMBUAT KITA TENANG��

��PASAL 1
Kecemasan kita sebelum ujian tak akan mengubah soal ujian, jika soalnya"124+157:?" Maka begitulah yang akan keluarnanti. Tidak mungkin soalnya berubah menjadi "1+1:?". Tidak mungkin. Kecemasan sebelum ujian hanya akan menyebabkan mental down. Jangan berlebihan. Tenanglah.
��PASAL 2
Kekecewaan kita setelah ujian karena beberapa jawaban yang kurang tepat, tidak akan mengubah jawaban tersebut. Jika soalnya "Dimana ibukota Indonesia?" Lantas kita jawab, "Lombok." Ketahuilah, kekecewaan kita setelah keluar ruang ujian tidak akan mengubah jawabannya menjadi 'Jakarta'. Maka yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Terimalah.
��PASAL 3
Kesalahan saat menjawab soal, jika itu mengantarkan kita untuk banyak beristigfar, menyadari bahwa kita ini makhluk yang bodoh. Itu lebih baik daripada kita menjawabdengan benar semua soal namun menjadikan kita lalai, lupa bersyukur. Ujian bukan hanya tentang menjawab soal, tapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimanaagar ujian lebih mendekatkan kita kepada Allah.
��PASAL 4
Kenapa kita salah saat ujian? Sederhana, agar kita bisa mengamalkan yang namanya kesabaran, yang namanya 'menerima dengan lapang dada'. Bukankah kita sering membaca ayat "Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui."
Bukankah kita hapal hadits Rasulullah yang berbunyi "Jangan katakan "seandainya begini pasti akan jadi begini", karena kalimat"seandainya" membuka pintu setan." Bukankah puluhan buku motivasi tentang berpikir positif kita sudah baca?
Nah, jika tidak dalam keadaan seperti sekarang ini? Lantas kapan lagi kita akan mengamalkan semua itu?
��PASAL 5
Keliru menjawab soal tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah salah menyikapi kekeliruan tersebut.

Sumber: LDK Al-Fatih

Dalam Dekapan Seorang Sahabat

Assalamu'alaikum Sahabat.

7 (tujuh) MACAM PERSAHABATAN, Tapi Hanya 1 Tersisa Sampai Di Akhirat .

1. “Ta’aruffan” , adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.
2. “Taariiihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.
3. “Ahammiyyatan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.
4. “Faarihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing, dan sebagainya.
5. “Amalan”, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.
6. “Aduwwan”, adalah seolah sahabat tetapi musuh, di depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120).
Rasulullah mengajarkan doa, “Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”
7. “Hubban Iimaanan”, adalah sebuah ikatan persahabat yang lahir batin, tulus saling cinta & sayang krn ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam2 dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya.
Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.
Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat. yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10),
“Teman2 akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67).
Selalu saling mengingatkan dlm kebaikan dan kesabaran.
Saudraku yang aku cintai karena Allah..
"Sahabat, dengarkanlah sejenak...
Diriwayatkan, bahwa: Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala ...
"Yaa Rabb...Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia, Shalat bersama kami, Puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,"
Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah."
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Perbanyaklah Sahabat-sahabat Mu'min-mu, karena Mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat."
Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat-sahabatnya sambil menangis:
"Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta'ala tentang aku, "Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu.
" Sahabatku....
Mudah-mudahan dengan ini, aku telah Mengingatkanmu Tentang Allah ta'ala...Agar aku dapat besamamu kelak di Surga & meraih Ridha-Nya...
Aku memohon kepada-Mu...
"Karuniakanlah kepadaku Sahabat-Sahabat yang selalu mengajakku untuk Tunduk, patuh & Taat kepada Syariat-Mu...Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu...Amiin..

Terima kasih sahabat.... Semoga Allah mengumpulkan kita didalam Firdaus-Nya....